Roses Are Red 1x
Roses, 2022 - digital panting, AB.

BAB #3 Namaku Ros Magdalena

Hari biasa bar tempatku bekerja tutup pukul satu malam, akhir pekan dan hari libur buka sampai pukul tiga pagi. Tempat lain lampunya padam saat tutup, tempat hiburan malam tutup ketika semua lampu menyala terang.

Walau sudah sepi dari tamu, pekerja bar “Boeng Ayo Boeng!” masih berkumpul depan panggung pemain musik. Menunggu kasir menghitung dan membagikan uang tip dari tamu, mengumumkan siapa yang paling banyak menjual minuman makanan, dan yang tidak mendapat bonus karena gagal mencapai target.

Malam ini, penjualan dan tipku yang terbanyak, tamu yang memilihku jadi teman kencannya semalam, duduk di meja tujuh sesaat setelah bar buka, pulang tengah malam menjelang bar tutup.

Bung Adi baru berkunjung ke sini pertama kali, ia royal menghabiskan uangnya. Pesan 12 botol bir, sebotol pun tidak ia minum, dibagi-bagikan ke teman-teman kerjaku, 3 botol terakhir diberikan buatku, membelikan aku dan Zes Luh makan malam, ingin ditemani makan dan mendengar ceritanya.

Aneka rupa yang ia ceritakan, dari rumahnya di Makassar, tiba di Bali sejak kapan, tinggal di mana, sampai mengapa datang ke Singaraja. Perawakan bung Adi yang kecil sepertiku ternyata menampung banyak cerita.

“Kalian tahu mengapa aku memilih duduk di meja nomor tujuh?” Tanyanya.

“Nomor keberuntungan Bung,” kata Zes Luh menanggapi.

“Saya tidak percaya keberuntungan yang sebenarnya ketepatan waktu, tempat, dan takdir, pertemukan keinginan dan kenyataan sesuai harapan, tidak lebih. Saya lebih percaya pada proses berusaha dan perencanaan walau tanpa jaminan pasti berhasil.”

“Lalu mengapa meja tujuh?” Tanyaku berbasa-basi. Seperti Zes Luh, kami paham tindak-tanduk lelaki yang ingin cepat-cepat akrab.

“Angka tujuh tanggal lahirku, bentuknya persis badik, senjata tajam khas orang Bugis Makassar, saya dari Makassar, kemana-mana kubawa.” Kata Bung Adi.

Belum meminum birnya, tetapi sudah mabuk. Tadi pamer akal dan tekad pilih usaha dari pada keberuntungan, sekarang pamer kejantanan lewat senjata tajam dari kampungnya.

“Ketimbang percaya sama badik, aku lebih percaya pada keberuntungan.” Jawabku ketus.

“Tentu. Butuh banyak keberuntungan bekerja di tempat semacam ini.” Katanya sambil melap mulut.

“Maksud Bung? Apa kami memaksa datang ke sini? Atau keinginan sendiri? Kenapa menghina pekerjaan kami!” Jawabku marah.

Zes Luh, menendang kakiku di bawah meja, mengingatkan tugas pramuria menemani tamu bersenang-senang, bukan bertengkar sekalipun banyak tamu yang pantas ditampar.

“Maaf. Maksudku tidak seperti itu. Kata-kataku saling bersilangan ketika bertemu orang yang membuatku jadi terlalu bersemangat.”

“Gombal!” Kataku dalam hati, tidak ingin tamu pertamaku malam ini pergi tanpa memesan makanan dan minuman sebanyak mungkin dan pulang tanpa memberi tip besar. “Kenapa bisa begitu? Bung grogi?” Kalimat itu yang keluar dari mulutku.

“Saya pelukis, pekerjaan yang digerakkan rasa dan hasrat. Beginilah saat temukan ide cemerlang sebelum melukis. Perbedaan antara nama dan foto yang kupilih jauh dari yang kuharapkan. Ingin melukis setangkai mawar, jadinya kebun mawar.”

Mendengar perkataannya, Zes Luh tersenyum simpul kemudian berdiri mengucapkan terima kasih untuk makan malam, meninggalkanku duduk berdua dengan lelaki menyebalkan, yang baru saja merayu.

“Bar ini tutup pukul berapa?” Tanyanya memecah keheningan sepeninggal Zes Luh, berusaha mendapat tanggapan dariku.

“Sampai pukul satu, akhir pekan pukul tiga. Malam masih pagi Bung.” Jawabku dengan nada dan sikap lebih sopan. Biasanya pengunjung yang menanyakan kapan bar tutup, sudah bersiap pulang.

“Wah! Malam masih pagi! Kamu penyair!” Sahutnya lebih bersemangat ketimbang tadi. “Tunggu, biar kuhitung uang yang saya bawa.” Katanya kemudian mengeluarkan dompet, menumpahkan isinya ke atas meja, tidak peduli lirikan orang-orang.

Kupastikan ia belum berkeluarga, uang kertas dan koin yang keluar dari dompetnya tidak terbagi rapi menurut pecahan dan tidak ada cincin belah rotan. Tebakanku usianya di atas tiga puluh lima tahun.

“Kalau Zes Ros menemaniku sampai bar ini tutup, saya harus bayar berapa?” Tanyanya sambil merapikan uang yang berserakan.

Jumlah uangnya cukup untuk tiga malam berturut-turut berkunjung ke sini, makan, minum dan ditemani pramuria.

“Kalau Bung belanjakan sekaligus, setengah jam saja sudah habis. Pramuria di sini tidak dibayar pengunjung, digaji dari belanja tamu dan tip. Beli tiga botol bir kami temani. Kecuali Bung mencari teman tidur kupanggilkan temanku yang mau, silakan tawar menawar sendiri sebelum dibawa keluar. Aku pramuria, bukan pelacur.” Kataku lugas, sudah jelas arah pembicaraannya ke mana.

“Kubagi empat, setiap jam memesan tiga botol bir. Pukul 12 malam saya pulang.” Sahutnya penuh semangat tidak peduli tawaranku. Tingkah bocah ketemu mainan baru, laki-laki di mana-mana sama saja, tidak penonton pertunjukan tariku dulu, atau tamu tempat hiburan malam, suka pamer kuasa, materi, dan uang.

“Rumah Bung jauh?” Tanyaku setelah ia selesai merapikan uangnya.

“Naik dokar sepuluh menit dari sini, masih kawasan pelabuhan Buleleng juga.”

“Ongkosnya sudah Bung pisahkan?”

“Belum! Hahaha, terima kasih kamu ingatkan. Saya hampir pulang jalan kaki.” Jawabnya kegirangan lalu menyelipkan beberapa lembar ongkos dokar ke saku celananya.

Selain menyebalkan, ia jujur.

Menemani bung Adi membuatku berpikir, ia menyebalkan karena berbeda dengan tamu-tamu yang pernah kutemani. Empat jam tanpa dibantu alkohol, kami berbincang akrab seolah pernah kenal sebelumnya.

Katanya, ia tergoda mampir saat melintas, sepulang dari membuat sketsa upacara Ngaben di Ubud, nama bar tempatku bekerja membuatnya makin ingin masuk ke dalam istirahat dan makan malam.

Repro poster perjuangan pemuda-pemudi Indonesia

Poster-poster propaganda penyemangat pemuda-pemudi Indonesia pertahankan kemerdekaan juga ditulisi kata-kata ‘Boeng Ayo Boeng’. Gambarnya karya pelukis Affandi, kata-katanya ditulis penyair Chairil Anwar, kalimat yang biasa diucapkan pelacur di Jakarta saat menggoda pria yang melintas agar mampir.

“Ada ikatan perasaan dengan nama tempat ini, dulu saya ikut berjuang bersama laskar pelajar di Makassar,” katanya menambahkan. Kali ini aku tidak merasa ia sedang sombong dan pamer.

“Aku di sini juga berjuang Bung. Cita-cita yang kuperjuangkan tidak sebesar pertahankan kemerdekaan, cuma bertahan hidup tanpa menjual diri.”

“Siapa yang tidak jual diri demi bertahan hidup? Saya juga menjual diri lewat lukisan karyaku, semoga pemimpin kita tidak mengisi kemerdekaan dengan menjual negeri dan rakyatnya,” katanya membesarkan hatiku.

“Terima kasih untuk usahamu menghibur, bagiku lebih terhormat pelacur yang menjual tubuhnya sendiri ketimbang mereka yang mencuri, merampas, dan menjual hak orang banyak. Aku bertahan sampai dapat pekerjaan lebih baik, sebelum kalah melawan kenyataan hidup. Boleh tahu, kenapa Bung pilih aku di antara belasan nama dan foto yang ada di kasir?” Tanyaku buru-buru, sebelum ia menyadari aku berkeluh-kesah kepadanya yang baru kukenal beberapa jam.

“Karena namamu. Keindahan mawar membolehkan semua orang menikmati tanpa menyentuh, kecuali ingin tertusuk duri.”

Aku tidak merasa ia sedang merayu, ucapannya mengalir mulus memasuki kepala dan hatiku, ia memang seniman yang melihat keindahan dari hal-hal biasa di sekitar.

“Namaku sejak kecil Nyoman Ayu. Pak Kurnia bosku di sini memintaku mengganti nama asli dengan yang enak diperkenalkan ke tamu, karena suka hiasan mawar di panggung pemusik, kusebut saja namaku Ros.”

“Ros saja? Tidak ada tambahan lain sesudahnya?”

“Tidak ada.”

“Bagaimana kalau tambahkan Magdalena di belakangnya, jadi Ros Magdalena. Terasa lebih manis.”

“Siapa Magdalena?”

“Magdala nama desa di tepi danau Galilea dekat dataran tinggi Golan. Ketika itu setelah nama orang lazim ditambahkan nama daerah asalnya. Seorang perempuan bernama Maria memilih meninggalkan kampung halamannya mengikuti Yesus dari Nazareth, demi melayani Yesus, mengenal Tuhan dan kerajaan-Nya, meninggalkan ibu, ayah dan saudaranya dan kehidupan nyaman di Magdala, mengikuti panggilan hati. Karena berasal dari Magdala, murid-murid Yesus yang lain memanggilnya Maria Magdalena. Banyak catatan sejarah dan tertulis di berbagai kitab Injil, kalau Maria ikut menyaksikan peristiwa penyaliban. Saat murid-murid Yesus yang lain putus asa dengan harapan akan kembali berdiri kerajaan Tuhan di bumi setelah peristiwa penyaliban, Maria Magdalena justru memandang dari sudut lain. Kerajaan Tuhan bukan berupa istana di Jerusalem dengan Yesus sebagai raja, tetapi berada di dalam setiap hati dan jiwa manusia yang pengasih, pemaaf, dan penyayang. Sifat-sifat baik itulah yang harus meraja dalam diri manusia.”

“Mirip syair Salampah Laku, geguritan karya Ida Pedanda Made Sidemen, wiku zaman dahulu di Bali. Seingatku berbunyi, ‘kalau tidak ada sawah untuk ditanam, maka suburkan sawah ladang di dalam diri’ sama kan Bung?”

“Makna secara umum sama, sebagaimana di luar begitu juga di dalam. Kalau ajaran Islam, setiap manusia pemimpin di muka bumi, karena ada tugas membawa rahmat atau kasih sayang bagi alam semesta.” Jawabnya menanggapi. Bung Adi mungkin penganut Islam yang taat, makanya tidak menyentuh bir.

Kisah hidup Maria Magdalena yang ia tuturkan membuatku teringat dengan janji suatu saat harus keluar dari sini, mencari pekerjaan lebih baik, membangun kerajaan dalam diriku, menanam padi, dan berkebun di sana dengan tenang, tidak khawatir sewaktu-waktu dirampas kenyataan hidup.

Kehidupanku sebagai penari berakhir setahun lalu. Pergi tanpa berpamitan pada Nyai dan Pak Ketut pimpinan kekompok tari. Ketenangan dan kebahagiaan yang kurasakan selama menari dirampas paksa pejabat desa yang memaksa ingin menjadikan aku gundik.

Takdir membawaku bertemu pak Kurnia di toko emas saat menjual tabungan perhiasan menyambung hidup sebagai pelarian, tak punya tujuan kecuali terus berlari dari kejaran pak Carik. Pak Kurnia menawarkan bekerja di tempat hiburan malam miliknya.

Aku lari dari pak Carik karena menolak menjadi gundik, walaupun ia berjanji akan menceraikan istrinya setelah menikah denganku, aku tetap tidak mau. Lari dari pak Carik untuk bertemu lebih banyak lelaki seperti dirinya setiap malam, menemani minum, makan dan bernyanyi.

Sekarangkah malam keberuntunganku? Mengikuti tamu di depanku yang sebentar lagi pulang.

“Saya pamit,” katanya setelah menengok arloji di tangannya menunjukkan pukul 12 malam. Seketika aku terbangun dari khayalan.

“Terima kasih sudah memesan banyak makanan dan minuman,” kataku kemudian berdiri bersiap mengantarnya ke kasir.

“Meja tujuh, semuanya berapa Bung?” Tanya bung Adi kepada kasir.

Bung Adi memberi dua ikat uang yang entah berapa jumlahnya, kemudian membisikkan sesuatu ke kasir. Melihat tebal uang yang ia bayarkan, lebih dari cukup.

Perlahan aku bergeser mundur menunggunya di pintu keluar, malu mendengar berapa yang harus ia bayar setelah menguras dompetnya karena ingin aku temani.

“Terima kasih Zes Ros, saya meninggalkan tip buat Zes di kasir. Cukup untuk tidak menerima tamu seminggu.”

“Jangan Bung!” Kataku benar-benar menolak kebaikannya. Ia sudah membayar makanan dan minuman di sini yang berharga lebih mahal ketimbang di warung biasa.

“Tidak mengapa besok saya makan nasi sama garam, asalkan perbincangan kita malam ini tidak menguap karena rayuan tamumu besok malam dan lusa.”

“Lusa makan apa?” Tanyaku serius.

“Ini.” Katanya sambil perlihatkan kertas-kertas bergambar prosesi upacara Ngaben. “Sebentar lagi jadi lukisan, besok kuantar ke pemesannya.”

“Terima kasih Bung!” Kataku menyalami tangannya sebelum naik ke dokar, sambil menahan keinginan merangkulnya dari belakang dan bertanya kapan ia datang lagi.

Bos kami Pak Kurnia, walau hanya memikirkan keuntungan dan memandang karyawannya mesin penghasil uang, tetap bersikap adil. “Tip dari tamu untuk pramuria aku kasih seratus persen, bagi ke yang lain. Bagi sendiri jangan aku yang potong, uang ini hak kalian,” lalu pak Kurnia mulai memanggil nama kami satu persatu, menerima tip yang sudah dipisahkan kasir dengan uang penjualan minuman dan makanan pesanan tamu kami masing-masing.

Malam ini hanya aku yang mendapat tip berupa uang dan tiga botol bir yang belum dibuka. Kawan-kawan kerjaku di bar “Boeng, Ayo Boeng!” tertawa ketika pak Kurnia memberi uang ditambah tiga botol bir yang kuberikan untuk pemusik dan penyanyi. Sehabis menuangkan bir untuk mereka, pemain bas betot mulai memetik senar basnya, disusul pemain biola, pemain gitar, tamborin, dan terompet. Memainkan lagu yang mengiringi perkenalanku dengan bung Adi.

“Lagu terakhir sebelum kita semua istirahat, ucapan terima kasih untuk Zes Ros dan tamunya di meja tujuh tadi,” kata pemain bas betot.

Di wajahmu kulihat bulan
Menerangi hati gelap rawan
Biarlah daku mencari naungan
Di wajah damai rupawan

Serasa tiada jauh dan mudah tercapai tangan
Ingin hati menjangkau kiranya tinggi di awan

Setahun lebih bekerja di bar “Boeng Ayo Boeng!” baru malam ini aku merasa bahagia. Bukan karena tempat, bos, teman kerja, gaji, tip, atau musiknya yang bagus, tetapi karena bung Adi di meja tujuh tadi.

Zes Luh menghampiri mengajak berdansa, menikmati keroncong ‘Di Wajahmu Kulihat Bulan’.

“Kamu sedang jatuh cinta,” bisik Zes saat kami sedang berdansa.

“Begini rasanya jatuh cinta? Kenapa tidak dari dulu.”

“Karena baru sekarang temukan lelaki yang pas untuk cintamu. Ingat, sehebat apa pun kamu mencintainya, bukan jaminan akan bersama Bung di meja tujuh tadi.”

Sengaja tidak menanggapi nasihat Zes, ingin menikmati rasa yang belum pernah hadir dalam hidupku. Enggan buru-buru mengadunya dengan kenyataan hidup sehari-hari yang menunggu di kontrakan sepulang dari sini.

Namun, mulai malam ini namaku Ros Magdalena.

***

Keesokan malam, Zes sahabatku tidak masuk kerja. Kasir, pelayan, juru masak dan penjaga keamanan tidak ada yang tahu dia kenapa dan ke mana. Di kontrakan tadi aku pamit berangkat kerja duluan, dia masih di kamar mandi.

Sesaat sebelum bar dibuka, pak Kurnia mengumumkan Zes Luh sudah tidak bekerja di bar ‘Boeng Ayo Bung!”. Pindah ke tempat hiburan malam lebih kecil sesuai dengan usianya, yang masih miliknya juga. Ia mengingatkan semua pramuria yang bekerja di sini maksimal berumur 35 tahun, kecuali masih laku dipesan tamu. Sebulan terakhir Zes Luh lebih banyak duduk di belakang meja kasir, menunggu tamu yang masuk menunjuk nama dan fotonya untuk menemani mereka minum, berdansa dan bernyanyi.

Keputusan pak Kurnia memindahkannya ke tempat hiburan malam lebih kecil, membuatku tersadar. Sebelum hal yang sama terjadi pada diriku, aku harus berhenti jadi pramuria.

Perlakuan kasar tamu di sini hanya berupa ucapan. Harga mahal makanan dan minuman sebelum bisa duduk ditemani pramuria, memaksa tamu-tamu kami berperilaku sesuai harga yang mereka bayar. Pengunjungnya pun berpenampilan perlente dan necis, dengan sinar wajah lelaki baik-baik, suami dan bapak di rumah mereka. Sementara tempat Zes dipindahkan, pengunjungnya buruh pelabuhan, kuli panggul, tukang dokar, dan aneka profesi yang menggambarkan kerasnya bertahan hidup di perkotaan. Mereka mencari tempat istirahat dari penat bekerja, melampiaskan kekecewaan pada kenyataan, menjadi raja semalam oleh puja-puji dan bujuk rayu pramuria dan pelacur yang siap menguras habis hasil kerja keras mereka seharian.

Ke mana harus pergi? Apa yang bisa aku kerjakan di luar sana setelah terbiasa dengan uang mudah dan banyak tanpa harus membanting tenaga. Penghasilanku seminggu sekarang sama dengan hasil sebulan menari dulu.

Tabunganku cukup untuk modal berdagang di pasar, kendati pedagang kecil dengan hidup pas-pasan, tetapi pekerjaan yang memuliakan diriku sendiri dan orang lain. Ketimbang berkelebihan dari hasil membohongi diri sendiri dan tamu, menjajakan cinta palsu yang kami buat lebih indah dari aslinya, cinta yang selama ini cuma bisa mereka angankan, pelayanan budak belian, selir sekaligus dayang-dayang yang mustahil mereka dapatkan dari anak istri di rumah.

Sambil menunggu tamu bersama pramuria lain, mataku terus memandangi meja tujuh. Berharap bung Adi kembali berkunjung. Andai ia tidak punya uang, aku yang akan membayarkan makanan dan minuman pakai uang tipnya kemarin.

Tanpa Zes Luh, aku kehilangan pelindung. Tanpanya, aku berharap bung Adi bisa membantu membesarkan hatiku mengambil keputusan berhenti jadi pramuria, sebelum menyerah pada bujuk rayu tamu-tamuku.

Sekarang hari jumat, besok sabtu, dua hari tersibuk di tempat hiburan malam. Nyaris tanpa istirahat merajakan tamu yang silih berganti datang berkunjung. Sampai bar tutup, bung Adi tidak terlihat, kemarin ia benar-benar menguras uangnya.

Tidak sabar menunggu senin hari liburku, minggu pagi aku mendatangi kampung tempat di mana bung Adi mengaku mengontrak rumah.

Kalau bukan karena harus bertemu bung Adi, aku enggan mendatangi kampung Bugis, ada klenteng Ling Gwan Kiong yang selalu membuatku berharap suatu saat bertemu Ajik di sana.

Sekali pernah datang ke sana, sepulang berjualan kerajinan tangan di pasar, Mbok Gek Ida kupaksa ikut menemani mencari tahu, barangkali Ajik pernah meminta restu bhikku sebelum memutuskan menitipkan putrinya ke panti asuhan. Namun, tidak ada bhikku yang pernah ditemui orang dengan permintaan demikian. Hari ini kembali mampir ke klenteng bukan lagi mencari jejak Ajik, tetapi berpamitan.

Suasana di dalam klenteng amat tenang. Sibakan air ikan yang berenang dalam kolam kecil yang berhias kembang teratai di tengah klenteng terdengar di antara lembut kesiuh angin. Aku berjalan sampai ke depan altar, mengambil satu hio, membakarnya, takzim berucap “Ajik, aku pamit.” Menancapkan hio kemudian meninggalkan klenteng.

Kontrakan Bung Adi tidak sulit ditemukan, sebagian besar warga kampung Bugis masih memiliki keluarga dan leluhur di Makassar, tetapi tidak ada yang pelukis. Aku bertanya di mana pelukis dari Makassar tinggal kepada seorang nelayan yang sedang memperbaiki jala. “Jalan terus Gek, gang kedua belok kiri, nanti tanya lagi di sana. Saya pernah melihat seorang pemuda menenteng lukisan masuk ke sana.”

Kontrakan bung Adi lebih sederhana dari pemondokan kelompok kesenian keliling Nyai Ketut Bagus yang punya ruang tengah luas tempat kami latihan menari, ukuran kamarnya setengah kamar kontrakan milik pak Kurnia. Di depan kamar hanya ada teras kecil tempat menjemur cucian yang langsung berbatasan dengan jalan kampung.

Bung Adi sedang menjemur pakaian sehabis mencuci. Bertelanjang dada dan berkain sarung, pemandangan yang membuat darahku tiba-tiba beredar lebih cepat, perpaduan kekuatan dan kelembutan. Otot-otot pelukis mirip otot penari, urat-urat halusnya menonjol kekar.

“Ros?” Tanyanya tidak percaya melihatku berdiri tepat di depannya. “Tunggu saya pakai baju dulu.”

Sehabis berganti baju, bung Adi mengajakku makan siang di warung ikan bakar dekat pelabuhan.

“Ada apa Ros?” Tanya Bung Adi dengan tatapan biasa, bukan tatapan seorang lelaki kelaparan melihat hidangan lezat tersaji di depannya.

Aku lalu menceritakan niat bertemu dengannya, mengapa ingin pergi dan keluar kerja dari bar dan ikut bersamanya.

“Rencanaku nanti bulan depan baru kembali ke Makassar, ikut dengan jadwal kapal barang dari pelabuhan Buleleng ke pelabuhan Makassar. Kecuali kalau lewat Surabaya, setiap minggu ada kapal yang berangkat ke Makassar dari sana.”

“Lewat Surabaya saja Bung, kita berangkat besok, tabunganku cukup kok,” desakku.

“Jangan mengambil keputusan saat marah atau sedih, dan jangan membuat janji saat bahagia. Saya bukan tidak senang kamu mau ikut ke Makassar, bahagia malah. Tetapi terburu-buru selalu membuat kita terlupa sesuatu, berbuah penyesalan.”

Tidak bisa berkata-kata lagi, aku menangis di dalam warung sop saudara dekat pelabuhan Buleleng.

Bung Adi kebingungan harus merangkul atau tidak, melihat beberapa pasang mata pengunjung warung sop saudara dekat pelabuhan Buleleng yang penasaran mengapa aku menangis.

“Lebih baik kamu saya antar pulang ke penginapanmu, tenangkan diri di sana. Hari Senin kamu boleh datang lagi ke sini susun rencana matang. Kita ke pasar beli gulali lalu membicarakan baik-baik rencana ikut denganku ke Makassar, sambil berkeliling kota Singaraja di atas dokar dengan sais istimewa.”

Aku mengangguk lemah, menyerah pada sikap kebapakan yang tulus ia tunjukkan. Tidak peduli Bung Adi barusan mengutip lirik lagu anak-anak. Mengikutinya keluar sambil berusaha tersenyum ramah ke semua mata di dalam warung sop saudara dekat pelabuhan Buleleng, menepis kecurigaan mereka, menjadi tangis kerinduan seorang adik pada kakaknya yang baru datang dari Makassar.

Seperti janjinya, Bung Adi mengajakku ke sebuah warung gado-gado di tengah pasar Buleleng, membeli gulali, dan naik dokar berkeliling kota Singaraja. Aku minta agar lewat di depan panti asuhan “Kembang Jepun”.

Keputusanku meninggalkan Bali sudah bulat, ingin bertemu Bli Made dan Mbok Gek Ida, berpamitan dan menitip permintaan maaf untuk Pak Ketut Bagus dan Nyai yang aku tinggal pergi tanpa pamit.

Tetapi bangunan panti asuhan “Kembang Jepun” sudah tidak ada, tersisa bangunan utama tempat Pak Ketut Bagus dan Nyai bertemu Bli Made, Mbok Gek Ida dan aku yang dimintanya ikut kelompok tari keliling mereka. Atap berdaun sirap sudah habis dimakan usia, pagarnya sisa tiang-tiang utama. Kata sais dokar, lebih dari tiga tahun panti asuhan ini sudah kosong.

Melihatku kebingungan menatap bekas rumahku, Bung Adi menyarankan supaya turun dan meninggalkan sesuatu di depan pintu panti asuhan, yang bisa mengingatkan Bli Made atau Mbok Gek Ida, aku pernah kembali ke sini. Siapa yang tahu suatu hari mereka juga berkunjung.

Aku memetik beberapa helai daun pandan di depan pagar menjalinnya jadi canang, lengkap dengan tutupnya. Di atas tutup canang, anyaman daun pandan kering membentuk namaku, ‘Ayu’.

“Sudah?” Kata Bung Adi yang ingin kami segera pergi dari sana sebelum bajuku basah karena air mata.

“Ayo Bung,” jawabku melangkah ke dokar sambil melap tangis.

Perbedaan usia membuat kedekatanku yang baru beberapa hari dengan Bung Adi terasa setahun. Mendapatkan tiga sosok dalam satu tubuh, Ajik, kakak dan kekasih. Sementara Bung Adi cuma mendapat dua, kekasih dan adik perempuan yang tidak ia miliki.

“Kita mulai dari mana Bung menyusun rencana ke Makassar?” Tanyaku. Setelah dokar kami kembali berjalan menyusuri kota Singaraja.

“Mulai dengan berhenti memanggilku Bung, merasa masih jadi tamumu dengan panggilan Bung.”

“Bagaimana kalau Bang?”

“Agak aneh, di Makassar orang memanggil Daeng untuk lelaki yang lebih tua.”

“Daeng saja kalau begitu.”

“Tidak mesra. Panggil apa saja yang membuat hatimu senang, asal bukan Bung.”

“Pak?” Jawabku ragu.

“Kamu senang memanggilku Bapak?”

Aku mengangguk seperti anaknya.

“Baiklah itu saja, tetapi kamu harus ingat setiba di Makassar nanti, kalau kita berjodoh menikah, saat memanggil suamimu Bapak, tidak boleh lagi membayangkan diriku sebagai pengganti Ajik.”

“Tentu Pak,” kataku sambil tersenyum geli mendengar Bung Adi menyebut kata berjodoh menikah.

“Mestinya Bapak sudah menikah.”

“Harusnya, terlanjur lebih cinta seni rupa ketimbang perempuan, datang ke Bali pun bukan dengan niat mencari jodoh, ke sini melengkapi jalan seni yang kupilih menjadi jalan hidup.”

“Niat Bapak mampir ke bar ‘Boeng, Ayo Boeng!’ benar seperti yang Bapak ceritakan malam itu?” Tanyaku.

“Sebentar kuceritakan. Pak Sais kalau kudanya kelelahan lebih baik kami turun, di mana kami bisa berbincang berdua dengan tenang?” Tanya Bapak teringat kami sudah berkeliling beberapa jam.

“Kalau mau membicarakan rencana pernikahan lebih baik ke kebun raya Eka Karya, sebentar turun di pasar Singaraja, dari sana naik bemo.” Jawab pak Sais yang mendengar percakapan kami sejak tadi. Tidak ada bedanya denganku yang tekun mendengar keluh kesah tamuku, walau sebagian besar bohong belaka.

“Baik Pak Sais, kita ke sana.” Jawab Bapak.

Setiba di kebun raya, bapak menceritakan pengalaman pertamanya mampir di tempat hiburan malam, dan bagaimana Bapak mengubah niat awal ingin jajan berkunjung ke tempatku, jadi ingin menikahi aku.

“Malam pertama setelah kita bertemu di bar, Bapak sudah berniat menikahiku?”

“Iya.”

“Bukan kawin?” Tanyaku masih tidak percaya.

“Hampir lima jam kamu menemani di bar, pernah sekali tanganku menyentuh?”

“Tidak pernah. Bapak boleh menggandeng tanganku sambil jalan.”

Bapak melanjutkan ceritanya, tanganku belum mau ia gandeng.

Kampung Parang tempatnya tinggal di kota Makassar kental dengan patriarki, keberadaan perempuan tidak lebih sebagai pelengkap, termasuk punya andil besar mengapa ia terlambat mengenal perempuan. Kejantanan kaum lelaki diukur lewat ketajaman lidah, ketajaman badik, dan ketajaman kelamin. Betapa primitif kompetisi kaum lelaki saat itu. Mengadu mulut, mengadu kesaktian dan fisik, dan terakhir mengadu jumlah perempuan taklukan yang diperistri maupun tidak.

Beruntung Bapak lahir dan besar di keluarga yang tidak tertarik dengan kebiasaan yang dianggap standar dan wajar ketika itu. Sementara kawan-kawannya menjadikan ketajaman tiga hal tersebut sebagai medali kejantanan mereka.

Namun, bukan berarti Makassar kota menyeramkan, kebiasaan berbicara lugas sebagaimana adanya memang membuat kuping panas bagi yang belum terbiasa, justru menjadi daya tarik bagi ulama-ulama dari Minang yang sejak zaman kerajaan Nusantara silam, silih berganti datang ke sana. Katanya, mereka sudah ke tanah Jawa belajar keluhuran budi pekerti dan tata krama, meninggalkan kampung halamannya setelah tamat dengan kercerdikan dan kecendekiawanan, terakhir harus ke Makassar, belajar berkata jujur dan benar walau pahit akibatnya.

Kebiasaan berbicara benar dan jujur terbentuk sejak lama, sebelum kerajaan Gowa menjadikan Makassar sebagai kota pelabuhan utama, raja-raja Gowa yang mangkat tidak boleh disebut nama aslinya saja. Harus dipanggil dengan penyebab dia mangkat. Ada yang bergelar raja yang terjatuh dari tangga istana, raja yang lehernya sakit, raja yang tangannya patah, semua menyebut keadaan sang raja saat mangkat sebagaimana adanya. Rakyatnya tentu ikut kebiasaan kerajaan yang berbicara jujur dan benar.

Aku sedikit khawatir, ia dibesarkan dengan budaya dan adat istiadat di kota Makassar. Bergaul dengan kawan-kawan yang menganggap penaklukan wanita sebagai medali kejantanan.

“Kamu lihat sendiri, tubuh pendekku tidak punya peluang mengoleksi medali kejantanan. Selain memang tidak tertarik, juga tidak menarik.” Katanya membantah dugaanku

“Bapak tidak pendek, masih lebih tinggi dariku.”

“Dibandingkan kawan-kawanku di Makassar, saya paling pendek. Lahir dengan bakat harus menjadi pelukis. Diberi tangan yang terampil memindahkan apa yang terekam mata dan otak nyaris seperti aslinya. Kutukan yang menjadi berkah, lebih tertarik dengan gambar dan lukisan ketimbang koleksi medali kejantanan. Bakatku menjadi kutukan, saat tersadar usiaku sudah empat puluh tahun dan belum pernah mengenal wanita. Satu hal penting lain harus kamu ketahui tentangku, walaupun bicaraku, pendapatku terdengar seperti seseorang yang menjalankan agama dengan baik dan benar karena menghindari perempuan dan alkohol, saya belum menjalankan ajaran agama Islam dengan benar. Saya ingin menikah dan itu denganmu, karena masih banyak rahasia hidup, rahasia Tuhan, dan rahasia manusia yang hanya bisa tersingkap setelah menikah. Kamu teman mencari rahasia yang asyik bagiku. Orang tua kandungmu saja dirahasiakan Tuhan.”

“Bapak menyimpan harapan buatku, aku pun demikian. Harapan selain sumber kebahagiaan juga sumber penderitaan. Aku ingin kita mengingat ikrar hari ini setiap kali bertengkar hebat, jangan menyesali keputusan menikah denganku, dan aku pun tidak akan menyesali keputusan menikah dengan Bapak, sehebat apa pun kenyataan menghempas harapan.”

“Saya berjanji tidak menyesali niat menikahimu Ros. Lebih baik kusampaikan juga sekarang, ayah dan ibuku lahir dengan tekanan darah tinggi yang turun kepadaku. Sebaiknya kamu bersiap menghadapi ledakan-ledakan emosi yang belum pernah kamu temui sebelumnya.” Jawabnya. Aku tadi melihat beberapa lukisannya yang sedang diangin-anginkan, empat dari lima lukisan menggambarkan luapan kemarahan.

“Bapak juga harus bersiap bersaing dengan harapan palsuku, aku masih berharap suatu hari bisa bertemu Ajik dan Meme.”

“Sudah tahu palsu, mengapa dipertahankan?”

“Harapan itu yang membuatku mampu bertahan hidup, harapan itu juga yang membuat hidupku sekadar hidup.”

“Kamu membesarkan ruang dalam diriku saat menyampaikan keinginan ikut ke Makassar kemarin. Harapanku setelah bertemu kamu pertama kali, sama dengan keinginanmu. Bersama-sama sisihkan ruang yang berisi harapan palsu, bekerja keras membangun yang asli, berdua memurnikan cinta kita masing-masing.”

Kalimat yang membuatku semakin percaya, Bapak memang belum mengenal perempuan yang lebih suka kebohongan indah ketimbang kenyataan pahit.

Cuma sedikit perempuan seperti Nyai Ketut Bagus yang berhasil melalui dan menggabungkan kenyataan pahit dan kebohongan indah menjadi kenyataan indah. Lebih banyak yang berakhir menjalani hidup dalam kebohongan yang lebih pahit setelah manis habis, sesuai darma dan karma.

🌹 Dukung kami menuntaskan kisah hidup Ros Magdalena via trakteer atau buy me a coffee.

Baca Juga.

Hati 2

Bab #6.2. Upacara Kecil 17an

Tentara tidak pernah pensiun, gelar purnawirawan hanya menandakan tuntasnya pengabdian seorang tentara di dalam rantai komando organisasi ketentaraan. Suamiku bukan

Img 20191202 184105 509 Animation

BAB #4 Sehidoep Semati

Adi mengajak ikut ke Makassar menemui orang tuanya, lalu menikah di sana. Memang aku duluan yang meminta ikut bersamanya ke

Img 20201116 080237 468 Edited 2

BAB #5 Kampoeng Para Radja

Kemarin kami ke Kassi-Kassi, Jeneponto. Daeng Geleng orang kepercayaan bapak semasa bekerja dan tinggal di sana, meninggal dunia pukul 3

Fave 5ab

BAB #6.1. Harmoni

“Tidak boleh asal bikin?” Tanyaku lugu. “Boleh, kalau mau asal jadi. Sebelum melukis cari kanvas terbaik sesuai ukuran, warna-warni cat

Inferior

BAB #7 Surat Panjang Sahabat

Anak-anak kecil di Makassar sebelum berkelahi, biasanya debat kusir dulu. Satu kalimat kunci menangkan perdebatan, sesiapa lebih dahulu menyebut pasti