Inferior

BAB #7 Surat Panjang Sahabat

Anak-anak kecil di Makassar sebelum berkelahi, biasanya debat kusir dulu. Satu kalimat kunci menangkan perdebatan, sesiapa lebih dahulu menyebut pasti keluar sebagai pemenang, kalimat itu: “kunci-kunci dunia”.

“Kutanya ko Bapakku!”

“Ada tonji Bapakku!”

“Kupanggil omku yang Polisi.”

“Sepupuku yang tantara kusuruh datang.”

“Bapakku pernah ke Jakarta, pergi ke Monas lewat depan istana, appako!” Tetap menjawab sengit walau memulai topik baru yang tidak berhubungan.

“Bapakku yang bangun istana!” Apalah artinya sekadar lewat di depan istana, ketimbang ikut membangun? Debat kusir seperti ini ikut membentuk kerangka berpikir kita sejak kecil.

Balle-balle! Bapakku yang punya semua pasir di Endonesa!” Benar juga. Tanpa pasir, bagaimana membangun istana.

Perdebatan terhenti ketika seorang dari mereka mengklaim, “Bapakku yang pegang kunci-kunci dunia!” Berakhir, dialah pemenang debat. Bisa saja membantah klaim tidak berdasar lawan debat kusirnya, “Tuhan kah Bapakmu?” Dan yang satu membalas, “Tuhan bukan tukang kunci!” Pemenangnya tetap yang pertama menyebut ‘kunci-kunci dunia’.

Tidak menerima kekalahan membenturkan bahu, dilanjutkan adu tinju, banting dan piting. Kalau enggan beradu fisik, keduanya sibuk menggambar di atas tanah, dan yang kalah perlahan ngeloyor pergi.

Debat seru yang sering kita alami semasa kecil menumbuhkan kecintaanku pada ilmu-ilmu yang berusaha mengenal manusia, memahami kemudian mengajar diriku dan manusia lain tentang manusia. Aku selalu menang, karena memperhitungkan kemungkinan sebab-akibat rentetan setiap jawaban, berusaha kalimat ‘kunci-kunci dunia’ tepat saat giliranku menjawab.

Peradaban umat manusia di muka bumi sejak masa bangsa Sumerian, Kekaisaran Tiongkok, Jenghis Khan, Persia, Mesir, dan Romawi juga Nusantara, dibangun sama dengan dorongan mengapa semasa kecil aku suka berdebat kusir, naluri berkompetisi menjadi yang terhebat. Naluri hewaniah, hukum rimba yang terkuat menang dan berkuasa di sebuah ekositem dan rantai makanan.

Namun, keinginan menumpuk dan mengoleksi tidak dimiliki singa, hewan terkuat dan terbuas di padang sabana tidak menumpuk stok makanan. Membiarkan kawanan rusa minum dengan tenang di telaga, saat perut mereka masih kenyang.

Hukum rimba ditambah kemampuan berpikir manusia, mengejar rasa aman dari kelaparan juga bencana, manusia mengembangkan diri termasuk dengan berkompetisi di berbagai bidang dan skala, ditambah kebebasan memilih yang meski semu tetap terasa sebagai bentuk kebebasan, membuat manusia menjadi makhluk pengoleksi dan penumpuk secara individu maupun komunal.

Setelah mampu menumpuk kepemilikan kebutuhan pokok berupa informasi, sandang, pangan dan papan, berupa kapital maupun wujud nyata, melahirkan kebutuhan semu berikutnya; pengakuan dan pengukuhan atau eksistensi dan aktualisasi diri, yang memperlihatkan satu lagi dorongan yang tidak dimiliki hewan dalam ekosistem hukum rimba, kecenderungan narsistis, yang akhirnya mampu dan mau aku akui ada padaku sejak kecil. Kuketahui dan mulai kupahami setelah Ros Magdalena menolak cintaku.

Menurut kitab suci, dorongan narsistislah yang membuat Iblis terbuang, kemudian mengajak Adam melalui Hawa mengenal dorongan yang sama, lalu ikut terusir dari surga.

Aku tidak ingin buru-buru masuk ke wilayah agama dan Tuhan. Kita teman belajar mengaji alif-ba-ta-tsa semasa kecil, nyaris sepemahaman dalam hal memandang agama dan Tuhan. Sebagian orang menganggap kita sombong, karena tidak mau terburu-buru lari ke Tuhan setiap ada masalah.

Kalau kau, karena menganggapnya bentuk kemanjaan dan ketidakmampuan bersyukur manusia atas tubuh dan akal-budi yang sehat. Belum maksimal berusaha, sudah meminta pertolongan Tuhan, dan yang lebih memalukan lagi buatmu, dalam doa-doa kau kerap mendikte Tuhan agar hasil akhirnya sesuai dengan inginmu.

Aku juga, bedanya aku sepenuhnya mengandalkan diriku sendiri dan sumber daya yang bisa kumanfaatkan semaksimal mungkin untuk menjadikan diriku yang terhebat dan termampu di setiap kompetisi. Aku tidak mau dan tidak berencana akan melibatkan agama dan Tuhan sepertimu sehabis berikhtiar. Aku akui itu tidak bijaksana, kendati rasanya masih lebih bijaksana ketimbang memperalat agama dan Tuhan demi aktualisasi, eksistensi, dan pemenuhan dorongan narsistis.

Dulu aku berpikir dan meyakini, lahir dari keluarga bangsawan dan hartawan adalah keberuntungan yang tidak kau miliki. Ingatan fotografis dan bakat menggambarmu sejak kecil aku anggap ‘kutukan’, lahir berkalung papan takdir bertuliskan ‘seniman’ sejak kanak-kanak. Sementara aku bebas memilih ingin menjadi apa nanti, selain tetap jadi yang terhebat. Begitu pikiran dan keyakinanku dahulu.

Ternyata tidak demikian. Keinginanku yang selalu terpenuhi sejak lahir, pendidikan dan karir yang gemilang akhirnya harus menemui kegagalan dan penolakan pertama.

Buatmu, yang pernah berkeliling menjajakan lukisan ke kantor-kantor dan rumah-rumah, penolakan adalah hal biasa. Bagiku ini sesuatu yang luar biasa. Sanggup membuatku ciut bertemu langsung denganmu dan memaksaku memasuki gua. Cukup lama aku berusaha, sebelum mampu menyampaikan langsung pikiran dan perasaanku lewat surat ini, surat buatmu dan Ros.

Aku pamit dan meminta maaf, kuputuskan pindah rumah, membuat jarak fisik yang membantu emosi dan perasaanku ikut terjeda dari semua itu. Aku sepenuhnya sadar, permintaan maaf dan surat ini tidak akan pernah bisa membangun kembali apa yang sudah aku rubuhkan, tidak akan bisa memperbaiki apa yang sudah aku rusak, dan tidak akan mengembalikan apa yang aku hilangkan. Aku tidak pernah tahu sebanyak apa waktumu dan Ros yang terbuang karena meladeni permainan keinginanku memenangkan istrimu, aku tidak pernah menghitung sebanyak apa kerusakan yang telah kutimbulkan. Aku memang tidak peduli apa pun kecuali diriku dan keinginanku.

Aku tidak pernah memikirkan dan membayangkan sebesar apa luka dan kerusakan yang sudah kutimbulkan kepadamu, Ros dan keluargaku, sampai aku harus mengisahkan lagi seluruhnya kepada istriku. Sekali lagi, aku minta maaf.

Satu-satunya cara untuk memperbaiki semua kerusakan yang kutimbulkan, dengan tidak berusaha membangunnya kembali, tidak melawan waktu yang tidak peduli apa pun yang sudah terjadi, tetap terjadi. Aku hanya ingin mengubah kepahitan pelajaran hidup yang baru buatku, agar tidak hanya bermanfaat bagi diriku sendiri, tetapi juga bagi orang lain.

Kisah ini membuatku lebih mengenal diriku sendiri dan manusia lain sebagai sesama manusia, sebagai sesama diriku. Kau izinkan atau tidak, kisah ini akan aku tulis sebagai wujud permintaan maafku untukmu dan istrimu Ros.

Kau menjawab pertanyaanku, mengapa tetap menjadi seniman padahal bakat dan ingatan fotografis juga kau manfaatkan saat merancang dan membangun taman-taman kota. Mengapa tidak memilih profesi lain yang lebih menjamin diri dan keluargamu secara finansial. Kau mengutip perkataan Jalaluddin Rumi, “Mengapa tidak mencoba sesuatu yang belum pernah kulakukan, berserah diri.”

Jawaban yang kuanggap tidak realistis, bentuk pembelaan dirimu dari keengganan bekerja lebih giat dan lebih tekun, mengumpulkan uang lebih banyak demi keluargamu. Ternyata, uangmu pernah sangat banyak, tetapi kau alirkan bebas dan lepas, bukan ditumpuk.

Saat aku mencoba berserah diri, ide menulis tumbuh satu-persatu. Aku tidak memiliki latar belakang dan bakat kesenian sepertimu, walau demikian tulisan yang akan aku hadiahkan kepadamu, sedapat mungkin bukan dalam bentuk jurnal ilmiah. Aku berharap, istriku, kau dan Ros masih ada saat tulisanku selesai, kita harus berbincang dan berdiskusi tentang isinya.

Satu ide yang paling cemerlang, menulis tentang kompetisi. Kompetisi, termasuk perang, dapur yang melahirkan hidangan kemajuan umat manusia, tetapi tidak semua kemajuan tersebut beradab, tidak semua memajukan peradaban umat manusia. Sebagian besar kemajuan tersebut masih berkutat di usaha menimbun, menambah timbunan, mempertahankannya, kemudian mengklaim sebagai yang terhebat.

Dorongan individual menjadi manusia terhebat kemudian lebur menjadi kesadaran kolektif. Meraih kehebatan kolektif dalam berbagai kemasan dan skala; ideologi politik, suku, bangsa, agama dan ras. Lima kemasan kesadaran kolektif yang saling beririsan, membentuk ruang pencampuran sekaligus ruang kompetisi intra dan ekstra ruang, yang ikut membangun identitas umat manusia sampai hari ini.

Agama seharusnya mampu meluruhkan dan mengumpulkan seluruh identitas dan kesadaran kolektif tersebut ke dalam kolam besar entitas yang bernama ‘ciptaan’, tetapi ‘Tuhan’ keburu jadi rebutan umat manusia, diklaim bagian eksklusif dari bangsa, suku, ras, ideologi dan agamanya masing-masing.

Bagian ini belum mampu aku ceritakan lebih jauh, aku bukan ahli agama, baik secara ilmu pengetahuan akademis, status sosial, garis keturunan, alat politik, profesi, apa lagi sebagai pegangan hidup walaupun sedang mencobanya.

Aku masih fokus pada topik kompetisi yang lahir dari superioritas dan inferioritas manusia, yang menjadi motivasi utama secara individu maupun kolektif berkompetisi meraih eksistensi dan aktualisasi. Dan agama sebagaimana ideologi, suku, bangsa, dan ras, berperan besar di kedua topik tersebut.

Uniknya, walau kekuatan kapital mampu membeli itu semua, termasuk keindahan karya seni, ada titik di mana dorongan meraih atau menjaga superioritas dengan kekuatan kapital, takluk dan tidak bisa berbuat apa-apa. Contohnya seperti yang aku alami, cinta dan takdir yang tak dapat diubah. Tanpa dorongan menjadi superior, cintaku sudah cukup dengan cinta, tidak memerlukan apa pun, termasuk penerimaan. Tanpa inferioritas yang menuntutku harus selalu superior, aku tidak akan mau membuat persahabatan kita sejak kecil di ambang kehancuran karena merasa terhina oleh penolakan.

Aku kok merasa, Tuhan sedang perkenalkan diri lewat takdir-Nya kepadaku. Bukan hanya kau yang pernah menyebut hanya Tuhan yang mampu mengalahkan diriku, aku memang pernah berkeyakinan demikian, aku bahkan menganggap sosok Tuhan lahir dari jiwa-jiwa inferior. Aku yakin telah dan masih merancang takdirku sendiri sesuai yang aku inginkan.

Ternyata bukan kegagalan meraih hal-hal hebat yang menimbulkan euforia umat manusia yang menundukkan aku. Cukup cinta saja.

Kau pernah bersoloroh, kita merdeka saat sedang nyaman-nyamannya menjadi budak dan kaum terjajah. Sebagai laskar pelajar yang ikut pertahankan kemerdekaan, kau meyakini kesempatan itu mesti diambil, meski risikonya harus melalui proses seperti yang terjadi sekarang. Negeri kita didominasi orang-orang yang masih terjajah dan nyaman diperbudak oleh dirinya sendiri dan orang lain, harus dan haus akan eksistensi dan aktualisasi yang akan dipenuhi dengan segala cara. Sebelum kemudian bertransedensi —yang entah kapan— tidak ada aku dan kamu, yang ada cuma kita, atau forget the party, now for the people, kata Mao Zedong. Tentu proses menyatukan identitas ke dalam entitas berupa ‘kita’, berbeda-beda caranya. Bhinneka tunggal ika, ternyata bukan slogan atau doktrin semata.

Kau juga pernah mengutip hasil diskusi dengan kawan-kawanmu; agama lewat akidah memberi umat manusia kemampuan melompati proses memperbaiki diri, melewati etika, moralitas dan kemanusiaan, langsung ke akhlak dan adab. Dua hal yang tidak bisa aku raih lewat ilmu pengetahuan dan sekolah formal meski sudah professor.

Contoh lain berakidah dengan benar bisa melampaui kebenaran etika dan moral menuju level keindahan berikutnya, walaupun kebenaran matematis dan logis dari etika dan moral juga memiliki keindahannya sendiri. Lihatlah negeri-negeri Balkan yang pernah memiliki sejarah kelam lewat kaum Viking, sekarang terdepan dalam hal penegakan etika, moral, dan kemanusiaan, rakyatnya memiliki indeks kebahagiaan tertinggi di dunia hanya dengan belajar dari kesalahan yang pernah mereka lakukan. Namun, tanpa keindahan akhlak dan adab, hanya kesepakatan bersama tentang etika, moral dan kemanusiaan, hubungan seks bisa saja kelak termasuk cabang olahraga yang diperlombakan di sana.

Atau sebaliknya, sebagian umat beragama yang melakukan lompatan jauh dengan mengedepankan akidah, adab dan akhlak secara tekstual, bisa dengan tenang dan penuh keyakinan atas nama Tuhan, mengabaikan akal sehat, etika, moral dan kemanusiaan yang seharusnya menjadi pondasi akidah dan akhlak.

Aku menolak makanan haram, tetapi sejak tergila-gila pada Ros aku meminta bantuan dukun dan perilaku haram lainnya kukerjakan selama tidak ketahuan manusia lain. Bukan Ros, atau aturan agama yang salah, selalu manusia yang salah, dan kesalahan yang diakui dan diperbaiki, satu-satunya cara memperbaiki diri. Kesalahan fatal yang entah kapan bisa selesai kuperbaiki, Tuhan memang maha pemaaf dan pengampun tetapi konsekuensi adalah soal lain, semua bentuk kesyirikan yang sampai atau tidak sampai, kembali ke si pengirim. Akal sehatku menguap entah kemana, mencap orang lain lemah karena bermanja-manja kepada Tuhan, aku malah mengemis pertolongan ke sesama ciptaan. Doakan aku berhasil menerima konsekuensi perbuatanku. Kupikir dukun yang menyampaikan risiko buhul sihir yang kupesan jika gagal bersama Ros, isapan jempol belaka. Aku atau Ros, atau keduanya harus membayarnya dengan nyawa. Tentu, aku memilih kehilangan nyawaku, bukan Ros yang tidak tahu apa-apa. Sekali ini aku ingin berbuat benar dan baik. Jangan khawatir, setan atau jin apa pun itu, belum pernah sedurhaka diriku kepada Tuhan. Sakit kepala, bisikan dan dorongan menjerumuskan, bayangan-bayangan ketakutan yang tidak pada tempatnya, akan mampu aku atasi.

Pendapatmu benar dan sudah aku buktikan. Aku biadab secara adab dan akhlak, tetapi secara logika etika dan moral, aku yakin akan memenangkan perdebatan dan pertahankan kebenaran versiku sendiri.

Kau pasti merasakannya, dengan menulis hal-hal yang terkesan intelek dalam surat panjang ini, sebenarnya aku sedang membantu diriku menahan perihnya melepas hati yang lama, pedihnya menumbuhkan hati yang baru.

Saat bertemu lagi, aku akan datang dengan hatiku yang baru, dengan tulisan yang bukan lagi kompensasi patah hati, tetapi tulisan yang membutuhkan pendapat seniman, yang sanggup menemukan dan mengagumi keindahan pencipta di setiap ciptaan.

Sampaikan salamku buat Ros. Surat ini mesti kau bacakan juga buatnya.

Sahabatmu. Swarga Loka.

***

Suamiku membaca surat dari Loka dengan gaya teatrikal, sebagian isinya tidak mampu aku pahami, tetapi hatiku mengerti.

Otak tidak tamat sekolah dasar ini paham kalimat inti subyek-kata kerja-obyek-predikat. Kalimat, “Saya makan nasi hangat,” aku langsung paham. Jangan tambahkan yang lain-lain, kecuali ingin membuatku bingung.

Hati dan tubuhku yang dulu hidup dari menari, paham dan mengerti nada dan intonasi Adi suamiku. Paham, sakit yang Loka rasakan tidak lebih kecil atau lebih besar dari yang aku dan suamiku rasakan. Betapa sia-sia, kalau yang kami lalui ini hanya untuk melahirkan kembali diri kami yang lama.

“Kamu percaya semua yang Loka katakan dalam suratnya?” Tanya suamiku menatap tak percaya mendapati aku menangis.

“Iya,” jawabku singkat.

“Kamu pikir Loka terbantu dengan kepercayaanmu yang belum luntur?”

“Iya,” kembali menjawab singkat, belum paham ke mana arah pertanyaannya.

Aku percaya Loka tersiksa menjadi pembohong besar, munafik licik dengan muslihat yang membuat suamiku muak. Setebal apa pun kelam menyelimuti hati dan jiwanya, masih ada setitik kebaikan yang berhasil menariknya masuk ke dalam gua memeriksa diri.

Kami mampu bertahan bertahun-tahun dari seseorang yang yakin hanya Tuhan yang mampu menghentikannya, memang karena Tuhan. Aku yakin Tuhan turun tangan membantuku dan suamiku pertahankan rumah tangga yang kami mulai dengan dan atas nama-Nya. Loka dan istrinya mesti dibantu Tuhan juga dengan cara yang tidak kami ketahui. Bukan Tuhan kalau pilih kasih, hanya menolongku dan Adi, mengabaikan Loka dan istrinya.

“Kalau ingin membantu sahabatku, jangan percaya apa pun yang ia katakan dan janjikan, yang ia butuhkan bukan kepercayaanmu. Ia lebih butuh kepercayaan istrinya. Supaya ia tesadar, hal termahal di dunia ini adalah kepercayaan. Bukan kebutuhan pokok dan perlengkapannya yang bisa dibeli dengan uang.”

“Bapak ingin membalas dendam? Membuatnya lebih terpuruk?”

“Justru sedang membantu. Kamu belum paham cara berpikir dan sikap mental manusia narsistis, yang butuh asupan empati dan kasih sayang terus-menerus, sampai dirimu sendiri tidak kamu sayangi dan pedulikan. Aneh, orang yang yakin dirinya selalu benar, mampu minta maaf langsung walau lewat surat. Mungkin akhirnya sadar yang ia sebut cinta hanya membuat dirinya, istrinya, dan kita menderita, lelah membuktikan cintanya yang paling cinta, ingin luput dari rasa bersalah dan disalahkan jadi yang paling menderita, setelah gagal menjadi yang paling bahagia. Padahal kita sudah terlalu sibuk dengan kesalahan sendiri, padahal cinta tidak butuh bukti penaklukan atau bukti lain kecuali cinta itu sendiri. Aku mengenal sahabatku seperti mengenal lukisanku sendiri, begitu ia tahu kamu berempati kepadanya, permintaan maafnya yang tadi tampak tulus, di matanya menjelma jadi kunci pembuka peluang mengulang lagi usaha wujudkan keinginannya dengan segala intrik dan manipulasi. Coba kamu pikirkan ini. Kita berdua manusia biasa, yang Loka tantang bukan kita, tetapi ketetapan Tuhan. Saya memilih menepi dari permainannya, karena saya bukan Tuhan dan Tuhan tidak butuh pembelaanku atau pembelaanmu.”

“Aku tidak mengerti.”

“Kalau Loka ingin mengubah dirinya lebih baik, ia hanya butuh kepercayaan dari dirinya kemudian istrinya. Lalu percaya Tuhan bertujuan baik lewat takdir yang meruntuhkan diri dan hidupnya. Kecuali kamu lebih peduli kepadanya, ketimbang dirimu dan rumah tangga kita, silahkan saja. Tetapi ingat, kepercayaanmu makin membuat sahabatku terpuruk.”

“Aku belum mengerti.”

“Ingat pak Carik, lelaki sebelum kamu bertemu denganku, yang akan menceraikan istrinya meninggalkan anak-anaknya agar bisa menikahimu?”

“Ingat. Apa hubungannya?”

“Sebagai lelaki yang pernah kehilangan akal sehat saat kasmaran, saya bisa membayangkan kelakuan dan tingkah pak Carik saat kamu tolak.”

“Dengan siapa Bapak pernah kasmaran serupa pak Carik? Mesti bukan denganku!”

“Aduh! Denganmu, tetapi saya punya kanvas meluapkan warna-warni cintaku yang absurd.”

“Ya sudah. Jangan samakan pak Carik dengan Loka. Perbedaannya jauh saat merayu. Loka itu burung merak, pak Carik ayam jantan yang melipir berputar cari perhatian sambil berkotek-kotek tidak jelas.”

“Di luar keisenganmu menanti saweran pak Carik. Kamu tahu tujuan pak Carik, ia datang mencari setitik harapan. Tepat ketika kamu tidak tega melihatnya jauh-jauh datang dari Canggu ke Singaraja. Satu kerlingan mata tidak akan membunuh pikirmu, darah pak Carik kembali mengalir deras. Lalu diam-diam kamu merasa telah menolong, tetapi yang terjadi kamu sedang membunuhnya berlahan. Meminjam kalimatmu tadi, membuatnya melipir mengitarimu sambil mematuk setiap benih harapan yang membuat kerikil terupa jagung. Kalau bukan mati keselek kerikil atau kelelahan, pak Carik mati kehabisan waktu. Itu membantu? Rasa tidak tegamu telah menolongnya? Kalau kamu memutuskan tidak memberinya kedipan mata, menganggapnya sama saja dengan penonton lain, pak Carik tidak punya pilihan selain melanjutkan hidup, menata kembali rumah tangganya yang hampir hancur, kalau pun ia mati karena tak sanggup menanggung perihnya patah hati, pak Carik mati saat memperbaiki diri dan kesalahannya.” Cecar suamiku.

“Aku mulai paham.”

“Tolong, lihat dirimu sendiri, jangan dulu saya dan anak-anak kita. Sekian tahun Loka hampir membuatmu yakin dirinya adalah sumber kebahagiaanmu dan kamu syarat kebahagiaannya, bukan diri masing-masing. Kamu lebih peduli pada kebahagiaannya, ketimbang kebahagiaanmu sendiri, mengabaikan kebahagiaan suami dan keluargamu. Tidak ada harga yang pantas untuk itu.”

“Setahun lebih Bapak tidak menyentuhku.”

Suamiku tiba-tiba membopong tubuhku ke dalam kamar dan mengunci pintu.

***

“Kembali semua persoalan dalam rumah tangga antara suami dan istri selesai di tempat tidur?” Tanya Boja tak percaya.

“Apa aku harus menceritakan yang terjadi di kamar tidur?” Tanyaku usil.

“Jangan tante Ros!” Jawab Boja cepat.

“Persoalan itu belum benar-benar selesai. Kami menyimpan dan menumpuknya menjadi amunisi pertengkaran selama beberapa tahun. Tidak terhitung berapa kali suamiku meluapkan kemarahan ke atas kanvas, saat tak ada kanvas ia kulum sendiri. Setiap acara televisi ‘Flora dan Fauna’ menampilkan keindahan Merak, ia memanggilku ikut menonton. Lalu panjang lebar menjelaskan mengapa julukan si Burung Merak hanya pantas untuk penyair Rendra.”

“Tekanan darah Bapak tinggi sejak dulu, tetapi marah meledak-ledak di depan orang belum pernah saya temui. Kata kawan-kawan, dalam rapat-rapat organisasi kesenian, Bapak sering ngotot berdiri sendiri dengan pendapat berbeda, tetapi tidak ada kursi melayang, tidak ada caci maki.”

“Aku lebih suka Bapak marah, meledak memuncak kemudian tuntas, ketimbang menahan kemarahan saat kehabisan kanvas. Dua kali terkena stroke ringan.”

“Bagaimana dengan Loka?”

“Aku tidak tahu, belum pernah bertemu lagi. Dengan surat yang sedemikian panjang, ia lebih siap berdamai dengan kesalahannya, berdamai dengan takdir dan keadaan, ketimbang aku dan Bapak.”

“Tetapi akhirnya selesai?”

“Di depan kematian, semua telanjang! Usia yang makin senja menyelesaikan segalanya.” Timpal bapak dari balkon kecil dalam rumahnya, yang dulu studio lukis.

🌹 Dukung kami menuntaskan kisah hidup Ros Magdalena via trakteer atau buy me a coffee.

Baca Juga.

Hati 2

Bab #6.2. Upacara Kecil 17an

Tentara tidak pernah pensiun, gelar purnawirawan hanya menandakan tuntasnya pengabdian seorang tentara di dalam rantai komando organisasi ketentaraan. Suamiku bukan

Img 20191202 184105 509 Animation

BAB #4 Sehidoep Semati

Adi mengajak ikut ke Makassar menemui orang tuanya, lalu menikah di sana. Memang aku duluan yang meminta ikut bersamanya ke

Img 20201116 080237 468 Edited 2

BAB #5 Kampoeng Para Radja

Kemarin kami ke Kassi-Kassi, Jeneponto. Daeng Geleng orang kepercayaan bapak semasa bekerja dan tinggal di sana, meninggal dunia pukul 3

Fave 5ab

BAB #6.1. Harmoni

“Tidak boleh asal bikin?” Tanyaku lugu. “Boleh, kalau mau asal jadi. Sebelum melukis cari kanvas terbaik sesuai ukuran, warna-warni cat