Img 20191202 184105 509 Animation
Sanur Sunset, 2019

BAB #4 Sehidoep Semati

Adi mengajak ikut ke Makassar menemui orang tuanya, lalu menikah di sana. Memang aku duluan yang meminta ikut bersamanya ke Makassar, kalut dengan kepergian Gek Luh. Keyakinan yang kupakai menemukan rumah kontrakannya seorang diri di Kampung Bugis minggu lalu, kini menguap entah ke mana. Semakin dekat waktu berangkat, makin rupa-rupa pertanyaan yang mendadak muncul.

Apa itu menikah? Untuk apa menikah menikah kalau kemudian banyak yang bercerai? Mengapa Adi mau menikahi aku? Mengapa aku mau dan berharap itu sejak bertemu pertama kali?

Cinta?

Kalau kami jangan ditanya, tetapi pernikahan bukan soal menyatukan orang yang saling mencintai. Banyak yang menikah tanpa cinta, atau dengan cinta, ada yang gagal dan ada yang berhasil terus bersama.

Pernikahan membuat cinta, atau apa pun alasan dan sebab sepasang lelaki perempuan akan menikah, jatuh ke tempat seharusnya dalam ukuran sebenarnya.

Ajakan Adi membuat huruf-huruf puisi cintanya menjelma jadi angka-angka biaya hidup bersama. Tatapan sendu dan senyum manisnya kini terasa menakutkan, dibaliknya menanti pandangan sinis dan cibiran orang-orang terdekatnya di Makassar. Calon istri Adi perempuan tidak jelas orang tuanya siapa, pernah bekerja di tempat hiburan malam, dan putus sekolah. Ajakannya menikahiku membumikan angan-angan, aku tenggelam sampai ke dasar.

“Kamu ragu?” Tanya Adi, memecah keheningan yang ikut duduk bersama kami sejak tiba di kafe kecil di tepi pantai Sanur. Kepekaan milik Adi membuatku yakin sanggup hidup berdua jadi istrinya. Tidak perlu kamus mencari kata-kata yang tepat ungkapkan perasaan, pikiran, keinginan, dan keresahan saat berbincang dengannya. Terkadang kata bahkan tidak diperlukan.

“Kalau Bapak?”

Penari, pelukis, penyair, pemusik atau seniman lain, punya cara masing-masing saat gagal temukan padanan kata yang mampu terjemahkan makna. Aku bergerak dalam diam, tanpa rupa, warna, dan nada.

Perasaannya mampu aku pahami, belum pikirannya. Pikiranku mampu merancang dan membangun pondok sederhana dalam kepala. Empat tiang utama, lantai papan bertumpu ke balok yang mengelilingi tiang-tiang, kuberi dinding anyaman bambu, kemudian membuka sisi depan untuk pintu, satu jendela dekat pintu, dan satu jendela di samping, lalu kuberi atap rumbia yang terikat di atas rangka bilah bambu. Sementara pikirannya memasukkan apa yang belum terjangkau pikiranku. Dari mana matahari terbit, di sana jendela kamar tidur menghadap, arah angin dan arus orang lalu lalang ikut menentukan letak pintu, bayangan pohon besar, sampai hewan dan serangga di kontrakanku jadi perhatiannya.

“Semua orang pasti punya keraguan dengan yang baru dan belum pernah dilalui. Setitik keyakinan dalam diri masing-masing membuat kita berani menoleh ke pernikahan, sekarang mau menoleh ke yang membuat ragu, atau pada keyakinan yang baru setitik?”

“Belum bisa seperti Bapak, keyakinan memberangus keraguan. Aku membangun keyakinan dengan menjawab satu persatu keraguan dan kecemasan.”

“Ayo bahas sekarang! Kita harus punya waktu menjawab keraguan sebelum perjalanan seumur hidup tanpa kata surut.” Sahutnya bersemangat.

“Maaf, rencana Bapak batal kalau kita tak sepakat.”

“Tidak mengapa batal denganku ke Makassar, asal sudah kita pikirkan dan sepakati. Tidak semua kisah cinta ditakdirkan memasuki gerbang pernikahan dan tidak harus cinta kunci pembukanya. Jangan khawatir, tanpamu saya baik-baik saja, kamu saya pilih dengan sadar termasuk kemungkinan hubungan ini tidak berakhir menikah. Usiaku 40 tahun. Kamu 18 tahun, peluangmu mengalami banyak roman percintaan terbuka lebar, sementara pikiran dan kesadaranku sudah menepikan drama-drama percintaan di luar bingkai pernikahan, tidak mau kubuang sisa waktuku, harus kembali mencari calon istri lain begitu menerima kenyataan kamu dan saya tidak bisa menikah.”

“Bapak bisa meneruskan hidup tanpa aku? Kata Mbok Gek di panti asuhan, kalau bisa lanjutkan hidup tanpa orang yang kita cintai, berarti bukan jodoh, bukan suami buatku, bukan cinta sejati.”

“Manusia lahir dan mati sendirian, tidak mengajak siapa-siapa. Prinsip Gek benar sampai tiba waktunya berpisah, karena kematian, perselingkuhan tidak termaafkan, atau perceraian. Kamu pernah bertemu lelaki yang membuatmu seolah tak sanggup hidup tanpa dirinya?”

“Baru pak Carik yang mengaku tidak sanggup hidup tanpaku. Sejak mengutarakan cintanya, sampai hari ini tetap tidak bersama dan ia masih hidup tanpa aku di sisinya.

“Apa yang membuatmu ragu menikah denganku?”

“Keraguanku bisa menyinggung kelaki-lakian, janji jangan marah.”

“Kita belum pernah bersilang kata, hubungan matang dengan pertengkaran tanpa saling hina. Sebelum menuntut bisa dimengerti, lebih dulu ingin mengerti dirimu.”

“Cinta membuat aku yang bodoh jadi makin tolol. Akal sehatku mati dan mulai tergantung pada Bapak, padahal sudah kubuktikan bahu orang lain seburuk-buruk tempat bergantung. Bapak siap mendengar pertanyaan-pertanyaan bodoh?” Tanyaku berhati-hati. Aku sudah melihat beberapa lukisan karyanya, di balik ketenangannya tersimpan ribuan mata badai.

“Tanyakanlah.” Kembali ia menjawab tenang.

“Kata Nyai Ketut, pimpinan kelompok tari kelilingku dulu. Menikah dan berumah tangga cuma berpindah-pindah peran, ganti gerakan tari dan musik pengiring. Dari kasur, dapur, sumur, pasar, dan panggung.”

“Nyai perempuan Indonesia asli, empat tempat untuk rumah tangga dan keluarga, cuma satu untuk diri pribadi.”

“Mulai dari kasur.” Kataku sembari menahan napas.

“Kenapa kasur?” Tanyanya heran.

“Aku tidak tahu bagaimana Bapak memandang hubungan badan antara suami dan istri, buatku seks sepenting makan dan minum, tetapi dengan perasaan cinta dan ikatan janji pernikahan, akan lebih nikmat dan indah dari sekadar memenuhi kebutuhan dan keinginan.” Jawabku setelah berhasil mengumpulkan keberanian.

“Faktanya, banyak yang nyaman menganggap kebutuhan seks seperti halnya haus dan lapar. Jadi peluang usaha layaknya restoran dengan aneka menu makanan dan minuman yang diperjualbelikan, dicuri, dan dirampas. Sebenarnya apa yang ingin kamu tanyakan?” Tanyanya dengan nada yang mulai meninggi.

“Di tempat kerjaku dulu, selain pramuria ada pekerja seks berbayar. Banyak yang datang dengan sinar wajah lelaki baik-baik, ayah dan suami di rumahnya mencari teman kencan, lalu membawa perempuan pilihannya keluar beberapa jam. Aku menanyai perempuan sekembali melayani tamu, apa lelaki yang memilihnya puas? Jawabnya, kalau tidak puas, tidak mungkin dirinya yang selalu menjadi pilihan. Apa dia juga puas? Dia tidak menjawab, rona kemerahan di wajahnya, binar mata, dan senyum tipisnya yang menjawab. Pertanyaanku, Bapak sanggup memuaskan aku? Apa aku sanggup memuaskan Bapak? Sebab jika tidak, aku atau Bapak bisa saja akan mencari kasur lain di luar rumah kita nanti.” Kataku lalu menarik napas lega, berhasil menyelesaikan pertanyaanku.

“Hah? Bagaimana?” Tanyanya terkejut dengan keterusteranganku.

“Aku malu mengulangnya.”

“Kamu ragu karena usiaku?”

“Bapak janji tidak marah.”

“Tidak marah, cuma heran. Mengaku bodoh tetapi bisa terperinci soal kasur.”

“Aku pernah hidup dari bekerja di tempat yang perjualbelikan kenikmatan.”

“Sebelum kujawab, kamu punya pembanding kepuasan yang kamu harapkan?”

“Punya.” Jawabku singkat.

Mendengar jawabanku, terlihat jelas bapak berusaha menata ulang pikirannya yang terlanjur dikuasai kemarahan.

“Ceritakan puncak gunung yang harus kulampaui! Saya janji tidak berkomentar, memotong, atau bertanya sebelum ceritamu selesai.”

Apa itu kepuasan? Benarkah manusia bisa puas? Setelah satu, ingin dua, setelah tiga, ingin empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, tahu-tahu di ujung waktu. Kalau belum mampu menambah, manusia berusaha mengulang-ulang kepuasan yang sama. Pria pelanggan pekerja seks berbayar selalu kembali, terkadang bertanya, adakah perempuan lain yang bisa memberinya variasi kenikmatan agar nafsunya terpuaskan. Perempuan yang menjajakan tubuhnya juga ada yang menolak tamu lelaki yang tidak memberinya kepuasan.

Dorongan ingin merasakan kepuasan yang sama seperti yang dirasakan teman-temanku, kerap berkunjung. Semakin sering setelah pak Carik berhasil menemukan tempat kerjaku.

“Kamu mengenal kepuasan dan kenikmatan seks dari pak Carik?” tanya bapak datar, melihat aku diam memberinya kesempatan menanggapi.

“Tidak persis begitu,” jawabku. Bapak sudah aku kenalkan ke pak Carik sebagai calon suamiku saat mereka bertemu di tempat kerjaku dulu. Sejak itu pak Carik tidak pernah kembali. Bapak tidak bisa sembunyikan rasa bangga berhasil membuat pejantan lain surut mengejar betinanya, menaruh hormat dan berterima kasih pada pak Carik yang bersikap kestaria, mundur teratur dan membuka jalan, setelah aku tegaskan akan menikah dengan bapak.

“Jangan terburu-buru menilai lelaki, perempuan, atau manusia. Tentang manusia tidak ada kesimpulan akhir, hanya kesimpulan sementara. Kamu belum bertemu aneka jenis manusia. Kawanku ada yang meminta jatah pada istrinya sehari paling sedikit tiga kali, saat istrinya sedang tidak bisa, ia mencari di sekitar. Perempuan yang tinggal seratus meter dari kanan, kiri, muka dan belakang rumahnya, hampir semua pernah ia cumbu. Kalau kamu dan kawan kerjamu dulu beranggapan lelaki pasti takluk dengan kemolekan tubuh, tidak berlaku pada kawanku. Kambing betina bergincu, ia kawini juga saat birahi yang tidak kenal waktu dan tempat memuncak.”

“Perempuan juga ada yang begitu.” Jawabku.

Wanita serupa dengan pria, di tahap kesadaran tertentu menganggap seks sama dengan lapar dan haus yang harus dikenyangkan dan dibasuh. Makan dengan lahap walau sedang tidak lapar melihat hidangan pembangkit selera, tetap lahap walau sudah kenyang. Tanpa melibatkan perasaan, emosi, apa lagi cinta, semata-mata lapar dan haus.

Pertama kali tahu dorongan seksual sewaktu masih menari. Saat penonton menyelipkan uang ke balik kutangku, darahku menggelegak, wajahku terasa panas, bagian tubuh yang selama ini cuma aku anggap penanda diriku perempuan, mendadak lebih peka.

Nyai melihat perubahan air wajahku. Aku dimintanya istirahat menari.

“Tidak apa Nyai, harus ada pengalaman pertama.” Kataku menjawab pertanyaan Nyai apakah aku baik-baik saja.

“Tidak. Kamu istirahat menari dulu seminggu. Sampai bisa menguasai desir darahmu sendiri.”

“Kenapa Nyai?”

“Kamu masih muda, belum kenal lelaki yang mampu membuatmu lebih gelisah. Tanpa disentuh, kamu memohon kepadanya. Mau kamu mengemis minta kawin sama lelaki yang pasti mencari perempuan muda lagi setelah kamu?”

“Memang bisa begitu Nyai?” Tanyaku takut, sekaligus penasaran.

“Nanti kamu tahu sendiri. Kuasai dirimu sendiri atau nafsumu dan lelaki yang menguasai badanmu.”

Sebagian besar hidup perempuan berlangsung di dalam hatinya, berupa rasa yang tidak nyata, tanpa wujud, tetapi kami pelihara. Kebaikan atau keburukan yang pernah masuk dan menyentuh hati, bisa kami bawa seumur hidup. Berbeda dengan lelaki yang mengandalkan akal pikiran, mereka berlalu dengan cepat setelah emosi dan perasaannya meluap. Sampai sekarang aku ingat, bagaimana rasanya ketika penonton lelaki menyentuh dadaku.

Keesokan hari saat menari di kampung lain, aku mendapati penonton lelaki melotot menatap Gek Putu menari, ibu jari dan telunjuknya memainkan biji merica. Setiap merica di jarinya berputar, Gek Putu terlihat menahan geli. Aku menghitung lima kali Gek Putu tersentak, sebelum akhirnya tidak terganggu penonton lelaki yang melotot memandang dada Gek Putu penuh nafsu.

“Masih ada penonton dan penggemar yang lebih nakal dari sekadar memainkan merica seperti penggemar Gek Putu tadi.” Jawab Nyai menjelaskan yang baru saja kulihat.

“Seperti apa Nyai?”

“Macam-macam, pokoknya harus bisa kuasai desir darahmu sendiri. Seks, uang, ketenaran, kemolekan, martabat dan semua yang bisa membuat kita lupa diri, selama tetap di luar dirimu, tidak kamu izinkan masuk sampai menguasai hati dan pikiranmu, kamu akan baik-baik saja.”

“Sampai sekarang darahku masih berdesir setiap teringat.”

“Itu karena rasanya sudah tersimpan di pikiranmu. Bekas tangannya hilang begitu kamu mandi.”

“Bagaimana hilangkan rasa begitu Nyai? Aku pasti kerepotan kalau jadi Gek Putu.”

“Perempuan memang repot kalau soal rasa. Kamu beruntung ditakdirkan Tuhan ikut kelompok tariku, coba kalau jatuh ke tangan germo, habis badanmu dilacurkan, caraku mengatasi bisa kamu tiru.”

Nyai menjelaskan, rasa, perasaan, emosi, dan berbagai bentuk dorongan dan ketertarikan serupa sungai. Kalau alirannya tidak dibendung, diarahkan dan dialirkan ke tempat seharusnya, bakal jadi bencana untuk diri sendiri dan orang lain, karena beberapa orang tahu cara membocorkan bendungan.

Setiap sungai memiliki mata airnya sendiri, Nyai membatasi aliran dari tiap mata air dengan berpuasa delapan jam sebelum pentas sampai selesai menari, tidak makan atau minum apa-apa. Kalau ada orang yang berhasil membocorkan bendungan, air yang keluar juga kecil.

“Aku tidak kuat menari sambil puasa.”

“Caraku mungkin bisa kamu coba.” Timpal Gek Putu yang sudah bersalin dengan pakaian tidur.

Setiap pulang pentas, Nyai mengumpulkan kami di ruang tengah rumah kontrakan tempat kami latihan. Selain untuk membagi honor, kami juga berbincang hal-hal lain.

“Bagaimana caranya Gek?”

“Dinding kamar tidur kita anyaman bambu, waktu hujan badai kemarin tidak roboh. Kamu tahu kenapa?”

“Ada tiang yang menahan.”

“Kamu punya tiang yang bisa menahan keinginanmu mengulang pengalaman susumu yang baru tumbuh disentuh lelaki?”

“Tidak punya Gek, aku diam-diam kepingin lagi.”

“Hihihi. Kalau begitu kamu buat celah-celah kecil, seperti lubang-lubang anyaman bambu. Hembusan angin kencang tersalurkan sedikit demi sedikit lewat sana.”

“Caranya Gek?”

“Tidak tahu. Cari sendiri penyaluran yang nyaman buatmu. Kalau aku dengan bernyanyi-nyanyi sepuasnya.”

“Dulu di panti asuhan aku suka bikin kerajinan dari anyaman nyiur, lupa waktu kalau menganyam.”

“Besok aku mau ke pasar, sekalian kubelikan bahannya.” Tambah Nyai.

“Nyai sudah cerita ada yang lebih parah dari kelakuan penggemarku tadi?”

“Belum.”

“Sebaiknya beri tahu Nyai. Nyoman tingting kita bakal kelabakan kalau dikerjai begitu sebelum punya suami. Aku pamit istirahat duluan.”

“Kamu sudah pernah begitu?” Tanya Nyai sepeninggal gek Putu.

“Maksudnya kawin? Belum Nyai.”

“Kalau mimpi kawin?”

“Belum pernah.”

“Maksud Gek Putu, ada penggemar yang bisa mendatangimu dalam tidur, mengajak, bahkan memaksamu kawin.”

“Diperkosa dalam mimpi?”

“Kalau diperkosa kamu menolak dan melawan, ini kamu pasrah menyerahkan diri.”

“Kok bisa?”

“Karena enak, kemudian menikmati, lalu ketagihan.”

“Ih, amit-amit!”

“Kelemahan kita perempuan, rasa terlalu dominan. Sementara dalam mimpi, tidak ada kulit, tidak ada keringat, tidak ada denyut jantung, tetapi terasa nyata karena perasaan menghujam pikiran membuatnya nyata. Sehebat apa pun, tetap tidak nyata. Mau kamu ketagihan sampai jatuh cinta? Mimpi ya mimpi! Tidak bisa duduk denganmu di pelaminan. Dikawini lelaki yang cuma berani lewat mimpi? Kalau tidak berani datang dan meminta kesediaanmu baik-baik, lupakan saja, ia tidak menganggap dirimu pantas berkomunikasi langsung dengannya dan kamu berhak dapat yang saling memantaskan. Di kenyataan saja banyak yang tertipu lelaki.”

“Ajarkan mantra penolak mimpi begitu Nyai.”

“Lebih baik tanpa mantra dengan selalu sadar, selalu tertaut dengan pemilik alam semesta dan dirimu. Begitu kamu dibawa atau terbawa ke sana, sebelum terjadi apa-apa keburu ingat kalau cuma mimpi.”

“Nyai pernah mengalami?”

“Sering, sebelum menikah aku nikmati bahkan berharap. Wajah kita jadi cerah dan berbinar setiap mendapat kepuasan di tempat tidur, aku bisa cerah sampai seminggu. Artinya lebih banyak saweran saat menari. Setelah dinikahi Ajik, aku jadi jijik.”

“Jijik kenapa? ”

“Memangnya tanpa bantuan lelembut, tubuh kasar kita bisa masuk ke dalam tidur orang lain? Setelah nikah entah kenapa aku jadi bisa melihat wujud asli lelembut menjijikkan berwujud lelaki.”

Bapak tersenyum simpul mendengar kisahku.

“Menurut Bapak, aku masih gadis?”

“Tidak penting. Manusia yang bangga tinggalkan jejak penaklukan di tubuh manusia lain sedang menghibur ego setipis kertas yang mudah sobek. Setelah menikah nanti, saya tidak akan menyentuhmu selama 40 hari, agar jejak laki-laki lain terhapus. Bukan cuma kamu yang punya masa lalu, saya juga. Bisa bangun tidur setiap hari, sombong kalau kupakai meratapi masa lalu.”

“Aku takut kalau kepuasan yang pernah kurasakan, walau cuma lewat mimpi ternyata yang ternikmat buatku.”

“Hehehe. Imajinasiku tidak kalah liar dari mimpimu. Paling tidak seminggu sekali seks mandiri untuk kesehatan, lelaki usia kepala empat rentan prostat. Mungkin tetap dosa, tetapi tanpa mengajak manusia dan makhluk lain, saya menanggung sendiri konsekuensi pilihan yang paling sedikit keburukannya.”

“Mungkin lebih baik kita coba dulu sebelum resmi menikah?”

“Kamu pikir saya menikahimu cuma mencari kepuasan seksual? Mengapa perkara kasur penting sekali buatmu?”

“Karena setelah menikah kita tidak boleh mencari kasur lain!”

“Saya janji berikan kepuasan serupa atau melebihi yang kamu kenal lewat mimpi dengan pak Carik, bermodal dua hal yang tidak ada di sana, kenyataan dan saling cinta.”

“Bapak tidak marah aku pernah terpuaskan lelaki lain?”

“Hak dari mana marah ke perempuan yang bukan istriku? Kalau pun terjadi setelah menikah, tidak perlu marah-marah, pisah saja baik-baik kalau memang tidak mampu saling memaafkan dan tidak mau lagi beri kesempatan. Kecewa pasangan kita melanggar janji dan komitmen dengan nama Tuhan, masih harus menghukum diri sendiri dengan marah-marah?”

“Mengapa Bapak ingin menikah denganku? Jangan jawab cinta. Sejak Bapak menyampaikan niat, cintaku buat Bapak sisa akar, kembang dan daunnya gugur oleh kenyataan.”

“Kamu cantik dan molek, penuh duri saat akan kupetik dan kubawa pulang. Saya akui awalnya karena fisikmu saat mengantar pesanan di tempat kerjamu dulu, keroncong ‘Diwajahmu Kulihat Bulan’ mengiringi langkahmu menghapus kekalutan pikiranku yang kembali ragukan jalan hidup seniman.

Setelah berkenalan dan kamu pergi, saya tersadar. Berapa lama perempuan terlihat menggiurkan, 30 tahun? 40 tahun? Maka itulah usia pernikahanku kalau menikah karena sebab fisik. Walau jarang mengadu ke Tuhan, dengan kanvas dan cat lukis, kertas dan pena, saya nyaris tidak butuh perempuan atau orang lain dalam hidupku. Namun, ada masa kodrat manusia mahluk sosial yang butuh teman, butuh mencintai, butuh dicintai, yang memenangkan pergulatan melawan sepi berhasil membawaku ke tempat kerjamu. Mencari hiburan, mencari teman berbincang tentang apa saja. Tanpa merendahkan kemampuan berpikirmu atau pendidikanmu, saya ragu kamu bisa mengimbangi keliaran pikiran dan imajinasiku.”

“Bapak mencari teman ngobrol, teman diskusi, bukan istri, bukan perempuan bodoh dan lugu sepertiku.”

“Setelah kamu tahu orang-orang pintar itu, orang yang selalu merasa dirinya bodoh. Kamu akan berhenti minder, tanpa jadi keminter. Pintar atau bodoh bukan hanya soal sekolah tinggi, kamu yang melihat persoalan sebagaimana adanya, memandang tanpa kaca mata kepentingan, keinginan, kecemasan, atau lampiran lain, beberapa kali pecundangi pikiranku. Saya jago melukis, pasti menang lomba lukis denganmu. Tetapi adu ketabahan dan kesabaran menjalani hidup sebatang kara sejak bayi, kamu yang menang.”

“Lalu apa yang Bapak cari dariku?”

“Sehari ada 24 jam, 5 jam diantaranya saya tidur, sisa 19 jam. 12 jam melukis, mematung, mengukir, menulis, membaca dan tetek bengeknya, sisa 7 jam. 2 jam untuk rutinitas sehari-hari. Karena kita tidak membawa anak masing-masing saat menikah, praktis tersisa 5 jam sehari untuk berbincang denganmu. Kira-kira dengan 5 jam sehari, topik-topik berat dan besar seperti mengisi kemerdekaan Indonesia, membawa kebaikan bagi umat manusia sedunia bisa kita bahas sampai selesai? Saya cuma butuh pendengar yang baik, tidak harus mengerti awalnya, akan mengerti juga kalau 5 jam sehari mendengarku mengoceh.”

“Menurut Bapak aku calon pendengar yang baik?”

“Jangan ragukan itu. Tanpa titipan harapan dari kedua orang tua yang belum pernah kamu temui sampai sekarang, kamu hanya membawa satu harapan bagi dirimu sendiri, memiliki identitas.”

“Kalau kita menikah, jadi tahu harus menyebut diriku siapa. Istrinya Adi seorang pelukis.”

“Tetaplah merdeka dari penjajahan nafsu dan keinginanmu, bebas dari kendali dan kepentingan orang lain termasuk dariku. Kemerdekaanmu tempatku bercermin sehabis berjuang melawan penjajah yang sama, diri kita sendiri.”

“Seandainya rasa bahagia karena niat Bapak menikahiku bisa bertahan selamanya, aku tidak butuh apa-apa lagi.”

“Empat puluh tahun saya hidup mengejar kebahagiaan, hasilnya kesendirian dan lelah tidak berkesudahan. Bahagia itu tamu yang datang dan pergi kapan saja. Kubuatkan ruang khusus untuk menyambutnya agar lebih sering berkunjung. Buatlah ruang buatnya, kalau memang kebahagiaan tujuan hidupmu.”

“Aku tidak mengerti.”

“Semasa kecil, saya disuruh ayah ikut belajar mengaji di rumah seorang guru. Sebelum mulai belajar, semua murid diminta membaca satu surah pendek dari Al Qur’an, sampai sekarang masih ingat sebagian terjemahannya. ‘Demi waktu senja, sungguh semua manusia merugi, kecuali yang beriman dan mengerjakan kebajikan, yang saling mengingatkan untuk kebenaran dan saling mengingatkan dalam kesabaran’. Ketika memutuskan seni rupa sebagai jalan hidup dengan datang ke sini, sebagaimana semua maestro lukis Indonesia yang menjalani ‘periode Bali’, saya menemukan jawaban mengapa belum bahagia dengan semua kesenangan dan kenikmatan yang bisa kudapatkan, mengapa merasa merugi dengan semua pengejaran dan pencarianku sejauh ini. Saya bukan penganut agama Islam yang taat, tetapi kalimat semua manusia dalam keadaan merugi, memaksaku menoleh ke ayat selanjutnya, kecuali yang beriman, tanpa ibadah formal saya jelas bukan orang beriman, tetapi mampu mengerjakan kebajikan. Setiap berbuat satu kebajikan, saya merasa bahagia. Menikahimu termasuk kebajikan yang ingin kutunaikan. Kebajikan adalah ruang yang selalu dikunjungi kebahagiaan.”

“Agamaku tidak jelas. Bapak tidak pikirkan itu?”

“Kamu bertuhan?”

“Tuhan? Sosok yang mengizinkan kelahiranku ke dunia hanya untuk dititipkan ke panti asuhan? Hampir menjual diri sendiri demi bertahan hidup? Tuhan yang aku kenal kejam sekali padaku.”

“Bagaimana kalau ternyata Tuhan yang mengatur pertemuan kita? Masih wajah kejam yang tampak? Bayangkan seandainya dirimu putri seorang bangsawan kaya raya. Sekadar melirikku saja kamu enggan, apa lagi mau menerima ajakan menikah seniman paruh baya tanpa penghasilan jelas. Tetapi kamu bertemu denganku sembari membawa derita hidup sebatang kara sejak kecil, membuat niat biasa dan sederhana dariku, jalanmu mencapai satu puncak kebahagiaan hidup. Tanpa penderitaan adakah kebahagiaan?”

“Orang tua yang menyuruh anaknya belajar mengaji sejak kecil, pasti idamkan menantu yang seiman, seagama.”

“Tidak ada paksaan dalam agama, saya tidak ingin mengajakmu masuk Islam, saya sendiri bukan muslim yang taat. Silakan memilih keyakinan dan agamamu sendiri, dengan kesadaran sendiri, bukan karena paksaan atau karena takut tak jadi menikah denganku. Saya juga harus belajar lagi kecuali ingin melanggar aturan Islam, suami imam dalam rumah tangga.”

“Ceritakan kebiasaan dan adat orang di Makassar.” Pintaku, tidak ingin lagi terkejut dengan perbedaan kebiasaan dan kesukaan antara pengunjung tempat hiburan malam dan orang-orangnya, dengan lingkungan kelompok pertunjukan tari keliling.

“Sebagian besar menganut agama Islam, tidak ada kasta. Tetapi menaruh hormat dan patuh pada bangsawan keturunan raja. Keluarga yang mengabdi kepada bangsawan, anak-anaknya harus meneruskan pengabdian setelah orang tua mereka wafat. Bisa kita temui di jalan-jalan dan di pasar orang-orang memanggul putra-putri bangsawan di bahu agar kaki junjungannya tidak kotor menginjak tanah. Kalau ingin menaruh hormat kepada para bangsawan, silakan saja, bagaimanapun mereka terlahir dengan beban tanggung jawab lebih, dibandingkan yang terlahir dari keluarga biasa. Di bahu bangsawan ada satu bangsa, satu kaum yang menggantungkan nasib kepada mereka, yang patuh pada sabda dan tindak-tanduknya, jika mereka salah dan buruk, ikut buruk dan bersalah satu kaum. Hormati karena tanggung jawab yang mereka terima tanpa bisa memilih. Pergaulan antara pria dan wanita menjunjung tinggi satu nilai yang disebut ‘Siri’. Arti sederhananya malu melakukan sesuatu yang tidak sesuai norma dan adat. Duduk berdua seperti sekarang walaupun di tempat umum, tanpa ditemani kerabat lelakimu, membuatku harus menikahimu atau mati. Perbuatan kita dianggap merendahkan martabat dan harga diri keluarga besarmu. Apa lagi kalau sampai kawin lari, hanya kematian di ujung badik keluargamu yang bisa mengembalikan martabat. Mati berkalang tanah lebih mulia ketimbang hidup tanpa harga diri, dan menjadi sebab keluarga ikut menanggung malu. Meskipun makin banyak yang berusaha menyadarkan, kematian bukan cara menebus kesalahan dan keburukan yang sudah terjadi, tetapi dengan memperbaiki yang belum terjadi, tetap banyak yang memegang teguh nilai ‘siri’.”

“Keluarga Bapak memegang nilai yang sama?”

“Saya masih bayi sewaktu ayah ibuku pindah ke Makassar dari Gorontalo. Bukan keluargaku yang harus kamu cemaskan, tetapi orang-orang sekitar. Membawamu ke rumah orang tuaku di Makassar, tanpa status suami dan istri, bukan kerabat dekat tinggal satu atap, kita akan digeruduk orang-orang dan dikawinkan paksa. Untuk sementara kamu tinggal di pemondokan milik pak Imam masjid, sambil belajar agama Islam di sana kalau kamu mau. Menungguku berhasil meyakinkan ayah dan ibuku agar ridha sebelum kita menikah.”

“Aku juga akan menolak kalau anak lelakiku membawa pulang perempuan seperti diriku sebagai calon istri.”

“Gagal atau berhasil, selama sudah berusaha tidak masalah. Nantilah kita pikirkan setelah penolakannya memang tidak dapat kita ubah.”

“Setelah menikah denganku, Bapak ingin punya anak?”

“Ingin, kalau perlu sampai cukup bikin tim sepak bola, 22 orang.”

“Aku serius.”

“Saya juga serius. Ada kawanku yang terlahir dari keluarga miskin mendadak kaya raya. Ia cerita habis membuat perjanjian dengan seorang dukun yang membantunya mengambil rezeki berupa harta benda untuk anak cucunya kelak yang ia nikmati sekarang. Entah benar atau tidak kalau rezeki berupa materi sudah ditetapkan sebelum kita lahir, kalau bisa mengambil rezeki anak cucunya, berarti materi atau uang tidak ada bedanya dengan air, api, angin dan energi lain yang kekal dan ditetapkan, bisa dialirkan dan diubah bentuknya. Bayangkan 22 orang anak membawa ketetapan rezekinya masing-masing, berdua mengelolanya untuk kesejahteraan bersama, kita tidak akan miskin harta dan materi, tanpa harus mencuri ketetapan anak cucu kita.”

“Kemiskinan sudah kujalani sejak lahir. Miskin itu karena inginkan yang tidak ada, aku kaya karena merasa cukup dengan yang sudah ada.”

“Maaf kalau pikiranku aneh dan bodoh tentang rezeki dan berapa jumlah anak-anak kita nanti. Pernikahan bukan untuk mengajak perempuan hidup serba kekurangan dan bukan mencari mesin penghasil keturunan. Tidak mengapa kalau pernikahan kita nanti tanpa anak.”

“Tidak pernah merasakan kasih sayang, tanpa didikan dan cinta orang tua kandung atau orang tua angkat sejak lahir. Bagaimana memberi yang tidak pernah kurasakan kepada anak-anak kita nanti? Apa tidak lebih baik rencana pernikahan ini kita pikirkan ulang?”

“Cinta sanggup menjembatani. Biarkan cinta bekerja membangun jembatan antara yang tidak pernah kamu miliki dengan yang akan kamu miliki.”

“Jangan pepuisian dulu. Kalau cinta itu bir yang kita minum sampai mabuk, kemudian aku dan Bapak melakukan hal-hal buruk dan bodoh, apa kita akan menyalahkan cinta? Apa bir yang harus kita salahkan padahal kita sendiri yang memilih meminumnya?”

“Kalau nanti ditakdirkan punya anak, berapa orang pun, di mata takdir kita punya kapasitas membesarkan dan mendidik anak. Kita memang harus gelisah tentang ini, biar selalu ingat kalau kapasitas kita sebagai calon orang tua belum cukup. Tetapi tolong, jangan jadikan takdir tidak pernah rasakan cinta dan kasih sayang orang tua sebagai kambing hitam atau karena sekolah dasar tak tamat, andai gagal mendidik dan membesarkan anak-anak. Takdir tidak pernah salah hanya karena tidak sesuai keinginan dan harapan, cara manusia bertindak dan menyikapi takdir yang suka salah.”

“Usia kita terpaut lebih dua puluh tahun, mungkin, kelak aku membesarkan dan mendidik anak kita sendirian.” Kataku berhati-hati.

“Setelah pembahasan panjang ini, kita harus segera sepakat menikah atau tidak. Kalau umurku sama seperti kebanyakan pria Indonesia, kemungkinan saya wafat di usia 65 atau 75 tahun, ada waktu sekitar 25 sampai 35 tahun dari usia 40 tahun sekarang saling membahagiakan, menemani membesarkan dan mendidik anak sampai mereka melewati usia pancaroba, kalau memang saya wafat duluan. Bersamamu atau tidak, saya tetap harus pulang ke Makassar.”

“Kalau tidak ada perempuan yang mau Bapak nikahi, menua sendiri tanpa teman mengurus diri?”

“Sendiri sampai mati tetapi penuh syukur tiga tahun di sini dan mengenalmu, lebih kupilih ketimbang menua penuh penyesalan tidak pernah mencoba meminang, mendengar dan menerima penolakanmu.”

“Mari berdua menua sampai mati, kalau orang tua Bapak tidak mau punya mantu sepertiku, aku ingin melanjutkan hidup di Makassar. Sendiri tanpamu, tidak akan mengganggu hidup Bapak, tidak akan menuntut dan menyesali keputusanku ikut ke Makassar, kuharap Bapak juga begitu.”

“Hari Minggu lusa ada kapal motor pengangkut barang dan orang berangkat dari pelabuhan Buleleng, mau ke Surabaya kemudian ke Makassar. Kalau kamu setuju, sepulang dari sini kita sekalian mampir beli karcis untuk dua orang.”

“Bapak punya uang?”

“Ada.”

Berdua kami mendatangi kantor ekspedisi yang biasa mengirim barang ke pulau-pulau lain di Indonesia, menanyakan tempat untuk dua orang penumpang manusia.

“Kapal barang hanya untuk 50 orang penumpang. Tidak ada kamar atau kasur, bawa tikar, selimut, bekal makanan, minuman dan bantal sendiri. Tidur di samping palka yang memuat karung-karung hasil bumi. Jangan turun dari kapal saat transit 3 sampai 5 jam di Surabaya, penumpang tertinggal, hilang atau tercebur tidak akan dicari. Dua hari dua malam baru sampai Makassar.” Kata petugas dari balik loket karcis.

“Masih ada tempat untuk dua orang sampai ke pelabuhan Makassar? Berapa harga karcisnya?” Tanya bapak.

“Ada. Karcisnya 5000 rupiah seorang. Kapal berangkat hari Minggu lusa pukul sembilan malam dari pelabuhan Buleleng, pukul enam sore sebaiknya sudah di atas kapal.”

Bapak lalu membayar dan mengambil karcis kemudian mengantar ke kontrakanku.

“Besok lusa kapal berangkat pukul 9 malam, siangnya kamu sudah di kontrakanku, dari sana ke pelabuhan Buleleng sisa berjalan kaki. Perlengkapan tidur dan bekal dua hari biar saya yang siapkan.”

“Boleh aku yang menyimpan karcisnya? Ingin melihat kertas putih yang belum kita tulisi kisah apa-apa.”

“Ini, jaga kesehatanmu jangan begadang, naik kapal laut bikin mabuk dan mual kalau tidak biasa. Besok sore saya ke sini lagi.” Kata bapak sebelum pamit.

Aku masuk ke dalam kamar, menyalakan lampu minyak memandangi dua kertas karcis naik ke kapal yang akan mengantarku dan Adi ke Makassar.

Entah apa yang menanti di sana, apa pun itu tidak ingin menulis ulang kisah yang tidak lebih baik dari yang sudah aku lalui.

🌹 Dukung kami menuntaskan kisah hidup Ros Magdalena via trakteer atau buy me a coffee.

Baca Juga.

Hati 2

Bab #6.2. Upacara Kecil 17an

Tentara tidak pernah pensiun, gelar purnawirawan hanya menandakan tuntasnya pengabdian seorang tentara di dalam rantai komando organisasi ketentaraan. Suamiku bukan

Img 20201116 080237 468 Edited 2

BAB #5 Kampoeng Para Radja

Kemarin kami ke Kassi-Kassi, Jeneponto. Daeng Geleng orang kepercayaan bapak semasa bekerja dan tinggal di sana, meninggal dunia pukul 3

Fave 5ab

BAB #6.1. Harmoni

“Tidak boleh asal bikin?” Tanyaku lugu. “Boleh, kalau mau asal jadi. Sebelum melukis cari kanvas terbaik sesuai ukuran, warna-warni cat

Inferior

BAB #7 Surat Panjang Sahabat

Anak-anak kecil di Makassar sebelum berkelahi, biasanya debat kusir dulu. Satu kalimat kunci menangkan perdebatan, sesiapa lebih dahulu menyebut pasti